Keterjangkauan Akses Energi Jadi Pesan Utama Diplomasi Indonesia pada Pertemuan Energi G20 Jepang

By Abdi Satria


nusakini.com-Jakarta-Pemerintah Indonesia menaruh perhatian besar terhadap proses transisi energi global pada diplomasi antarnegara G20 di Toyama, Jepang. Akses energi menjadi poin perbincangan utama bagi Delegasi Republik Indonesia (DELRI) dalam Pertemuan ke-2 Energy Transitions Working Group (ETWG) G20. Untuk diketahui, Indonesia merupakan satu-satunya negara ASEAN yang menjadi anggota G20. 

"Indonesia berpegang teguh dalam menyuarakan akses energi dengan mempertimbangkan aspek keterjangkauan (affordability) dan keadilan (equity)," kata Staf Ahli Menteri Bidang Perencanaan Strategis Yudo Dwinanda Priaadi selaku Permanent Delegation G20 dari Kementerian ESDM saat mengikuti pertemuan tersebut pada 18 -19 April lalu. 

Di samping menekankan pentingnya akses energi, Indonesia juga gencar mempromosikan bioenergi dan biofuel agar menjadi bagian dari Energi Baru Terbarukan. "Setelah kami perjuangankan sejak G20 di Argentina 2018, pesan ini telah mendapat dukungan positif tanpa resistensi dari anggota G20 lain, seperti Brasil, Italia, dan Argentina," imbuh Yudo. 

Pada pertemuan ETWG sebelumnya, Februari lalu, Indonesia memperkenalkan secara lisan (Non-Paper) program "Greening the Fuel". Langkah ini ditempuh oleh sebagai upaya Pemerintah Indonesia mempromosikan green fuel sebagai salah satu jalan transisi energi, dengan asumsi dasar bahwa target energi terbarukan secara global tidak mampu dicapai tanpa kontribusi biofuel/green fuel. 

Studi International Renewable Energy Agency (IRENA) pada 2018 memprediksi, bioenergi berkontribusi atas seperempat bauran energi global di sektor transportasi pada tahun 2050. Tantangan ini telah dijawab Indonesia sebagai negara pemrakasra di dunia yang telah mengimplementasikan Co-Processing Crude Palm Oil (CPO) menjadi Green Gasoline dan Green Liquified Petroleum Gas (LPG) untuk skala komersial. 

Pada pertemuan ini, forum energi G20 diselenggarakan dalam ETWG yang diselenggarakan secara paralel dengan Environment Senior Officials Meeting (ESOM). ETWG tahun ini mengambil tema utama 3E+S (Energy Security, Economic Efficiency and Environment (3E), dan Safety (S). Pembahasan dalam ETWG dan ESOM akan diadopsi dalam Ministerial Communique on Energy Transitions and Sustainable Growth sebagai dokumen komitmen yang akan disepakati pada Ministerial Meeting on Energy Transitions and Sustainable Growth di Karuizawa, Jepang pada 15-16 Juni 2019 nanti. 

Di tengah tingginya prioritas Jepang pada Inovasi Energi seperti Hidrogen, Carbon Capture Storage and Utilization (CCUS), dan Well-to-Wheel Analysis, Indonesia tengah menekankan pentingnya acuan pada Sustainable Development Goals (SGDs) khususnya SDG7 dalam Ministerial Communique.  

Di sela-sela persidangan ETWG, Direktur Kebijakan APBN Hidayat Amir sebagai perwakilan Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan memaparkan presentasi Indonesia's Effort to Phase Out and Rationalise Fossil Fuel Subsidy pada sesi OECD: Update on Inefficient Fossil Fuel Subsidies (IFFS). Presentasi ini merupakan laporan keberhasilan Indonesia dalam pengurangan dan pengalihan subsidi bahan bakar fosil untuk sektor-sektor produktif dan pelayanan publik, yang diangkat pada Kegiatan G20 IFFS Peer Review Indonesia-Italia yang telah selesai pada tahun lalu. Presentasi para delegasi mendapat apresiasi dari forum dan menjadi contoh best practices kebijakan yang dapat diaplikasikan oleh negara-negara G20 lainnya. Argentina akan mengikuti jejak Indonesia dengan melakukan peer review dengan Kanada pada tahun ini.  

Sebagai informasi, Group-of-Twenty (G20) beranggotakan 20 kelompok negara dengan ekonomi terbesar dunia yang mencakup 85% Produk Domestik Bruto (PDB) dunia, 75% volume perdagangan internasional, 81% emisi karbon global dari sektor energi, serta 77% konsumsi energi global. Tak kalah pentingnya, keputusan-keputusan dan komitmen-komitmen di G20 menjadi rujukan dan mempengaruhi posisi Indonesia serta negara-negara G20 lainnya di beragam forum internasional. Selain membahas isu-isu perekonomian dan keuangan global, G20 memiliki sejumlah forum yang membahas isu-isu strategis lainnya seperti energi, perubahan iklim, ekonomi digital dan lainnya. (p/ab)